Beranda Features Derita Liver, Aris Munandar Berharap Sembuh Melalui Pengobatan Kampung

Derita Liver, Aris Munandar Berharap Sembuh Melalui Pengobatan Kampung

8987
Derita Liver, Aris Munandar Berharap Sembuh Melalui Pengobatan Kampung
Liver: Raut wajah Aris Munandar (22) yang sudah 3 tahun menderita liver ini tampak begitu pucat.

Tak seperti remaja pada umumnya, Aris Munandar, 22 tahun, remaja asal Desa Tanjung Bunga I Kecamatan Lebong Tengah menghabiskan hari-harinya dengan berbaring di rumah. Derita penyakit liver yang dialaminya sejak 3 tahun terakhir membuat perutnya semakin membesar. Tumbuh dalam keluarga yang hidup dalam keterbasan ekonomi, Aris berharap sembuh dengan menjalani pengobatan kampung.

Carles Jaya – LEBONG TENGAH

Anak kelima dari pasangan Supianto dan Nurlela ini, hanya tampak menunduk lesu dengan raut wajah haru di dampingi kedua orang tuanya saat disambangani di rumah sederhana yang dibangun dengan bantuan pemerintah (BSPS).

Dengan wajah pucat, ia tampak sesekali memegangi perutnya yang makin hari makin membesar. Tak sepatah kata pun terlontar dari bibirnya yang sudah pucat pasi itu. Namun, dari kedalaman pandangannya seolah mengisyaratkan jika ia akan tetap berjuang melawan penyakitnya meski hanya menjalani pengobatan kampung.

Supianto tak pernah mengira jika anaknya ini mengalami penyakit liver atau juga penyakit yang menyerang hati hingga menyebabkan organ ini tidak berfungsi dengan baik.

Bahkan sejak 2 tahun terakhir, penyakit yang dialami anaknya ini makin membuat keluarganya khawatir karena bagian perut Aris yang terus membengkak dan disertai rasa nyeri.

“Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi keluar rumah karena derita penyakit liver ini,” ungkapnya.

Meski sudah dibawa berobat ke RSUD Lebong, namun penyakit yang dialami Aris tak kunjung mengalami perubahan. Keluarga disarankan agar membawa Aris ke rumah sakit di Bengkulu.

“Kami hanya rawat jalan saja, dan disarankan agar dirujuk ke Bengkulu. Karena disini tidak ada obatnya,” kenangnya.

Sejak saat itu, ia hanya bisa mengobati Aris dengan pengobatan dusun. Namun, upaya yang dilakukan ini belum menunjukkan adanya perubahan. Bahkan makin hari, anaknya kerap mengeluhkan nyeri di bagian perutnya.

“Bengkak di perutnya juga semakin membesar. Sangat ingin kami membawanya ke Bengkulu sesuai saran rumah sakit, tapi rasanya tidak mungkin dengan kondisi ekonomi kami yang sangat pas-pasan,” ungkap Supianto yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani ini.

Ia hanya berharap ada dermawan yang bermurah hati membantu biaya pengobatan sehingga anaknya bisa di bawa berobat ke rumah sakit sesuai saran dokter.

“Kalau hanya mengandalkan BPJS, rasanya tidak mungkin. Untuk sehari-hari saja kadang kami kesulitan. Kami sangat berhadap ada bantuan dari dermawan atau dari pemerintah, agar anak kami bisa dibawa berobat ke Bengkulu sesuai saran dokter,” harapnya. (*)