Beranda Nasional Merawat Tradisi Ditengah Gempuran Ponsel Canggih

Merawat Tradisi Ditengah Gempuran Ponsel Canggih

220

Tak Ada Bedug, Ember Bekas Cat Pun Jadi

“Sahur…sahur…sahur” seruan layaknya yel-yel yang diteriakan sekelompok remaja berulangkali diiringi pukulan beduk yang terbuat dari ember bekas cat bercampur bunyi potongan baja ringan, berkeliling dusun untuk membangunkan masyarakat agar bersiap menyantap makan sahur. Tradisi yang sudah jadi turun temurun setiap bulan ramadhan, dibeberapa wilayah sudah mulai tergerus kecanggihan ponsel yang dimiliki hampir setiap masyarakat. Namun, tradisi membangun sahur dengan mengarak beduk berjalan kaki ini masih dipertahankan beberapa remaja di Desa Sukau Mergo Kecamatan Amen.

AMRI RAHMATULLAH – AMEN

Kebiasaan yang menjadi tradisi bulan ramadhan ini, dibeberapa daerah sudah mulai lenyap salah satunya disebabkan kecanggihan teknologi berupa ponsel canggih yang saat ini sudah dimiliki hampir setiap masyarakat, sehingga bisa mengatur sendiri alarm di ponsel sesuai kebutuhan masing-masing. Sebenarnya, ada nilai-nilai sosial yang bisa didapatkan dari hal ini mulai keakraban dan kepedulian sesama masyarakat.
Dengan penerangan sinar rembulan dan cahaya lampu jalan seadanya, kelompok remaja ini terus berjalan kaki sembari memainkan alat musik sederhana yang mereka bawa dengan terus melantunkan sahur…sahur…sahur. Meski hanya menggunakan alat seadanya, namun irama dan suara dari kelompok remaja cukup untuk membangunkan warga yang kala itu mungkin masih tertidur nyenyak.
Menurut Andi, salah seorang remaja yang ikut dalam kelompok ini, kegiatan membangunkan sahur keliling itu, rutin dilakukan setiap bulan suci ramadhan. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan dari ujung batas desa berkisar pukul 02.15 WIB hingga pukul 03.00 WIB dengan berjalan kaki membangunkan masyarakat untuk makan sahur.
“Kami bisa bermain dengan seru, berkeliling kampung bersama. Kebiasaan ini sudah dilakukan oleh pendahulu sebelumnya, jadi sudah tradisi dan turun-temurun,” terangnya.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga bisa menjadi momentum untuk berlomba-lomba dalam membuat kebaikan (fastabiqul khairat, red) khususnya pada bulan ramadhan yang penuh rahmat.
“Asalkan tidak dengan cara-cara yang negatif, misalnya membangunkan sahur dengan petasan dan lain sebagainya. Tetapi melakukan kegiatan yang sewajarnya saja dan niat yang baik itung-itung cari pahala di bulan puasa kak,” singkatnya sembari menabuh bekas ember cat dan kembali berkeliling kampung. (***)