Beranda Bengkulu Utara Pasar Kaget di Alun-alun Sepi Peminat

Pasar Kaget di Alun-alun Sepi Peminat

149
Terlihat tenda pasar kaget yang dipersiapkan Pemkab BU didepan Gedung Sahri Romli sepi peminat

BENGKULU UTARA – Pemindahan lokasi pasar kaget yang diilakukan Pemkab Lebong ke lokasi Alun-alun Rajo Malim Paduko tepatnya di depan gedung Sahri Romli, sepi peminat. Pantauan pada hari pertama puasa, tidak ada pedagang takjil yang mengisi lapak dipasar kaget.
“Gimana mau berjualan di lokasi baru pak, sementara dagangan kami berbagai macam seperti gulai, sambal dan lain sebagainya. Ini sangat membutuhkan cos berlebih untuk angkutannya pak. Karena letaknya yang dinilai sangat jauh untuk kami membawa dagangan kami. Belum lagi, dampaknya yang bisa menyebabkan dagangan kami tumpah,” ujar Reni yang menjajakan dagangan masakan siap saji.
Reni juga menambahkan, yang menjadi kendalanya juga, tidak adanya transportasi memadai untuk mengangkut dagangannya. Jika menggunakan Becak Motor (Bentor) tentunya akan menambah biaya. Sementara disisi lain, hal yang serupa pernah dilakukan oleh Kepala Daerah lain, dengan memindahkan pasar kaget ke wilayah alun-alun, namun hasilnya lebih besarlah pengeluaran dibanding pemasukan, ibarat pepatah, “Besak Pasak Pada Tiang”. Itu yang membuat minat pedagang enggan mengisi lapak disitu pak,” tambahnya.
Lain lagi disampaikan pembeli, seperti disebutkan Lia Jenita. Ia yang merupakan langganan takjil setiap bulan Ramadhan ini, mengaku kurang juga setuju jika para pedagang takjil di pisahkan dari pasar utama yakni pasar Purwodadi Arga Makmur. Karena, baginya ketika membeli takjil, kerap menyinggahi pedagang sayuran mentah untuk kebutuhan sahur. Sehingga, jika rentang jarak ini terpisah, yang membuat para pembeli hanya dapat membeli takjil, tidak serta punya pilihan lain, juga keberatan jika pasar ramadhan dipindah ke lokasi Alun-alun.
“Kami membeli takjil bukan semata-mata untuk membeli takjil saja, tetapi ingin membeli barang mentah untuk buat sendiri dirumah. Nah, jika pasar Ramadhan ┬áditempatkan dilokasi di depan gedung Sahri Romli. Apakah, ada yang jual barang mentah seperti, cabe keriting, bawang, sayur – sayuran dan lain sebagainya?. Tentu jawabannya tidak, karena lokasinya tidak memungkinkan. Untuk itu, kami menilai semestinya pemerintah itu sebelum mengambil kebijakan, alangkah baiknya untuk dilakukan kajian terlebih dahulu, terutama mengenai lokasi. Itu sangat sensitive loh buat pedagang. Jangan, hanya karena alasan relokasi, kebijakan membuat pasar ramadhan dipindah tanpa dibahas dengan para pedagang. Coba dibahas dulu, pastinya nggak seperti ini kejadiannya, ini sudah mengeluarkan anggaran pemerintah, namun justru tidak bermanfaat, tentu nggak baikan hasilnya. Coba, ikuti kebijakan pemerintah sebelumnya membuat pasar di sepanjang jalan, tentu lebih bermanfaat,” demikian Lia. (aer)