Beranda Hukum Polisi Amankan 1 Kubik Kayu Meranti Merah

Polisi Amankan 1 Kubik Kayu Meranti Merah

158

LEBONG – Dugaan pembalakkan liar yang terjadi dalam Kabupaten Lebong tampaknya masih marak terjadi. Bagaimana tidak, belum lama ini Unit Tipidter Satreskrim Polres Lebong berhasil mengamankan KS (33) warga Desa Tabeak Blau I Kecamatan Lebong Atas yang tengah mengangkut 1 kubik kayu jenis meranti merah yang diduga berasal dari kawasan hutan dengan menggunakan mobil Grandmax BD 9458 AK.
Kapolres Lebong, AKBP. Ichsan Nur, SIK, melalui Kasat Reskrim, AKP. Didik Mujianto, SH, MH, didampingi Kanit Tipidter, IPDA. Amir Lukman Hakim, dikonfirmasi Radar Lebong kemarin (12/3) membenarkan hal tersebut. Diakuinya, barang bukti berupa 1 kubik kayu jenis meranti merah yang sudah diolah dalam bentuk balok, 1 unit mobil Grandmax BD 9458 AK, serta 1 orang warga berinsial KS sudah diamankan pihaknya di Mapolres Lebong.
“Diduga, barang bukti kayu jenis meranti merah ini berasal dari dalam kawasan hutan lindung di Bukit Resam. Tersangka, kita amankan saat tengah mengangkut kayu yang sudah berbentuk balok menggunakan mobil. Saat diamankan, tersangka tidak mampu menujukkan dokumen terkait kayu yang diangkutnya,” kata Amir.
Selain itu, lanjutnya, dari hasil pemeriksaan sementara yang sudah dilakukan pihaknya tersangka mengakui jika kayu ini didapat dari wilayah Bukit Resam. Bahkan, untuk memastikan lokasi pengambilan kayu ini, pihaknya sudah melakukan pengecekan tunggul bersama pihak Kehutanan dan dipastikan jika kayu tersebut berasal dari dalam kawasan hutan.
“Kita juga sudah mengantongi identitas pemilik kayu tersebut. Adapun barang bukti yang kita amankan ini diantaranya 11 potong kayu berukuran 8 cm x 8 cm x 400 cm, 3 potong kayu berukuran 7 cm x 14 cm x 400 cm, dan 6 potong kayu berukuran 3 cm x 25 cm x 400 cm. Tersangka, diancam pidana pasal 83 ayat (1) huruf a Jo pasal 12 huruf d Undang Undang RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan Perusakan dan Pemberantasan Hutan. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara serta denda Rp 2,5 miliar atau penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” pungkasnya. (wlk)