Beranda Nasional SDN 70 Danau Liang “Terkucil” di Ujung Lebong Tengah

SDN 70 Danau Liang “Terkucil” di Ujung Lebong Tengah

224
Pendidikan merupakan sarana penyiapan generasi muda sebagai penerus estafet pembangunan kedepan, sejatinya hal ini ditunjang dengan sarana dan prasarana memadai.

Penyiapan Generasi Penerus Pembangunan, Masih Setengah Hati

Proses belajar dan mengajar untuk menyiapkan generasi muda sebagai penerus pembangunan di SDN 70 di Desa Danau Liang yang merupakan desa paling ujung di Kecamatan Lebong Tengah, masih mengiris hati. Bagaimana mungkin peradaban bangsa ini akan di bangun sementara pendidikan sebagai alat untuk membangun manusianya pun belum menjadi prioritas yang utama. Padahal, tujuan dari pendidikan yakni untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun hal ini belum didukung agen pembelajaran (guru, red) yang memadai.

PARAS SATRIA – LEBONG TENGAH

Jika merujuk pasal 49 ayat 1 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yakni mengatur dana pendidikan selain gaji pendidikan dan biaya pendidikan kedinasan minimal dialokasikan sebesar 20 persen dari APBD dan APBN, benar-benar dilaksanakan sesuai aturan, setidaknya saat ini tidak ada lagi sekolah yang kekurangan sarana dan prasana dalam melaksanakan pendidikan yang merupakan urusan wajib pemerintah yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar.
Tujuan pendidikan nasional sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 UU 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun, tugas ini hanya emban oleh 3 orang guru berstatus ASN dan dibantu 6 honorer di SDN 70 Lebong. Ironisnya lagi, tujuan untuk mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia tidak didukung dengan agen pembelajaran dengan disiplin ilmu yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
“Guru disini hanya ada 3 orang yang berstatus PNS dan salah seorang diantaranya tinggal menunggu SK Pensiun. Dan semua guru ini adalah guru studi Penjaskes. Mengajar adalah kewajiban, jadi apapun kondisinya ya di jalani saja mas. Sudah pernah kami mengajukan penambahan guru, kalau tidak salah tahun 2018 silam, tapi sampai saat ini belum ada kabarnya,” kata Herman, S.Pd, salah satu guru SDN 70 Danau Liang.
Hampir setiap tahun pihaknya meminta ke dinas terkait menempatkan guru pendidikan agama pada sekolah ini. Sayangnya, semangat untuk menciptakan pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, belum juga terpenuhi.
“Untung kita dibantu 6 orang honorer, meski mereka hanya berstatus honorer namun mereka sangat berdedikasi dan tanggung jawab dalam mendidik 76 peserta didik,” lanjutnya.
Lantas bagaimana dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Pendidikan, Herman mengaku jika sejak tahun 2018 silam sekolah tempatnya mengajar ini tidak menerima DAK seperti sekolah lainnya. Parahnya, saat akan mengajukan usulan dana DAK tahap II tahun anggaran 2018, dana DAK untuk sekolah ini justru dialihkan untuk sekolah lain.
“Padahal waktu itu kita berencana untuk membangun WC, tapi ya sudah la mungkin saat itu sekolah kita ini belum prioritas. Dan sampai saat ini, kita masih bertahan meski tanpa WC dan beberapa sarana penunjang lainnya,” ceritanya.
Belum lagi jatah dana BOS yang diterima pihaknya sebesar Rp 20 juta yang membuat sekolah kebingungan untuk merealisasikannya untuk siswa. Acapkali, pihaknya ditanyai wali murid perihal anak mereka yang tidak mendapatkan bantuan.
“Sering wali murid bertanya mengapa anak mereka tidak mendapatkan bantuan, dan kita hanya bisa menjelaskan kondisi senyatanya karena kita mesti memilih pelajar yang benar-benar membutuhkan sedangkan seluruh pelajar kondisinya hampir sama,” tutup Herman sembari memukul lonceng pertanda jam istirihat usai, dan segera berkumpul dilapangan untuk kemudian kembali ke ruangan belajar masing-masing. (**)