Beranda Bengkulu Utara Setelah Dokter, Perawat RSUD Arga Makmur Diduga Dianiaya

Setelah Dokter, Perawat RSUD Arga Makmur Diduga Dianiaya

176
Kabag TU RSUD Arga Makmur Fatarani

BENGKULU UTARA – Setelah sebelumnya Dokter di RSUD Arga Makmur mengalami penganiayaan, kasus serupa kembali dialami salah satu perawat di RSUD Arga Makmur berinisial Ap, yang diduga dilakukan oleh keluarga pasien Covid-19. Meski demikian, kasus dugaan penganiayaan telah damai kemarin (5/7) di RSUD Arga Makmur. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Arga Makmur, Fatarani.
“Iya, kita sudah memfasilitasi aksi perdamaian kedua belah pihak secara kekeluargaan, antara keluarga pasien yang diduga melakukan aksi kekerasan terhadap salah satu nakes, yakni perawat ruang tulip. Kita sejauh ini sifatnya hanya memfasilitasi, tidak ada sama sekali intervensi apapun dalam kasus ini,” ujar Fatarani.
Fatarani pun menjelaskan, setelah melakukan mediasi antara keluarga yang melakukan penganiayaan terhadap perawat RSUD Arga Makmur, disepakati kedua belah pihak akhirnya berdamai. Selain mencabut laporan ke pihak berwajib, kedua belah pihak juga akan menyampaikan hal tersebut kepada media. Ia pun menjelaskan, kendati korban penganiayaan merupakan karyawan RSUD, namun pihaknya tidak bisa mengintervensi permasalahan tersebut. Dalam hal ini, pihaknya hanya memfasilitasi antara kedua belah pihak yang menyatakan damai.
“Dalam kesepakatan damai tersebut kedua belah pihak juga akan mencabut laporan di Mapolres BU. Selain itu, kedua belah pihak juga akan menyampaikan klarifikasi didepan media, sehingga kesepakatan damai memang kesepakatan kedua belah pihak bukan intervensi dari rumah sakit,” demikian Fatarani.
Disisi lain, aksi kekerasan terhadap perawat ini juga sempat direspon oleh pihak Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Bengkulu, yang mengecam aksi tersebut. Seperti disampaikan oleh Ketua DPW PPNI Provinsi Bengkulu Fauzan Adriansyah, yang menyatakan. Pihaknya, sudah bertemu dengan bertemu dengan korban dan mempersilahkan bermusyawarah untuk mencari jalan terbaiknya terkait masalah yang dihadapi. Tetapi atas nama organisasi menyikapi masalah tersebut, harus mendapatkan pembelajaran atau hukuman yang setimpal terhadap oknum pelaku, agar kejadian yang sama tidak terulang kembali terhadap perawat-perawat lainnya, khususnya di wilayah Bengkulu.
“Kita kecam, karena perawat menangani pasien Covid-19, namun diduga masih mendapatkan perlakuan tidak mengenakan,” singkatnya.
Ia pun sempat mengancam, lantaran masalah yang sudah diketahui Lawyer PPNI Pusat ini, juga akan turun ke Bengkulu. Pasalnya masalah tersebut, bukan hanya diduga mencoreng nama pribadi korban, tetapi profesi. Belum lagi keterangan yang diperoleh dari korban, Fauzan menyampaikan, bahwa oknum keluarga pasien tersebut, berstatus seorang aparat.
“Meski arahnya akan damai secara pribadi, silakan saja nantinya. Namun karena negara ini negara hukum, ditambah lagi sedang wabah pandemi Covid-19, kita menilai harus ada tindak-lanjutnya. Bahkan, jika perlu atasan oknum pelaku juga bisa bertindak,” pungkasnya.
Sementara untuk diketahui, kronologis berdasarkan Berita Acara Perkara (BAP) yang telah dilaporkan korban ke aparat penegak hukum, kejadian pada Minggu, 27 Juni 2021 lalu sekira pukul 05.30 WIB, korban sedang berjaga di ruang tulip RSUD Argamakmur. Pada saat itu, korban dihampiri oleh keluarga pasien Covid-19, disuruh membaca. Setelah itu, korban menjelaskan bahwa ini blangko serah terima jenazah, karena ada tanda dan gejala Covid-19. Kemudian, ada laki-laki yang berbicara dengan korban langsung menepuk menggunakan tangan kirinya ke arah lengan kirinya sebanyak 1 kali, sambil berkata berulang kali, kenapa ini Covid-19, sedangkan antigen rapid tesnya negatif.
Lalu korban menjawab sembari menjauh dari keluarga pasien, dan kemudian semua keluarga laki-laki pasien mendekati korban, sehingga korban merasa ketakutan langsung berlari ke arah ruangan tulip, meskipun saat itu ditendang oleh salah satu keluarga pasien dari belakang, yang mengarah ke tangan kiri korban sebanyak satu kali. Selanjutnya, korban mengamankan diri ke dalam ruangan keperawatan. (aer)