Beranda Hukum Tak Puas Dengan Istri, Paman Rudapaksa Keponakan Disabilitas

Tak Puas Dengan Istri, Paman Rudapaksa Keponakan Disabilitas

469
Kejahatan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak
Konferensi Pers Polres Lebong terhadap salah satu kasus kejahatan seksual anak yang terjadi di Lebong. (Foto Dokumen)

//Terancam Kebiri Kimia

LEBONG – Entah apa yang ada dalam pikiran RG (45) warga Kecamatan Lebong Tengah ini. Bagaimana tidak, dirinya tega merudapaksa 2 keponakannya sendiri yang mengalami disabilitas. Parahnya, aksi ini dilakukan pelaku karena merasa tak puas dengan istrinya.
Kapolres Lebong, AKBP Ichsan Nur, SIK, didampingi Kabag Ops AKP Rafenil Yaumil Rahman didampingi Kasat Reskrim, Iptu Didik Mujianto, SH, MH, dan Kepala DP3APPKB, Drs Firdaus, M.Pd, dalam jumpa pers yang digelar kemarin (4/2) menjelaskan kejadian ini bermula saat pelaku datang kerumah korban pada Sabtu, 18 Januari 2020 berkisar pukul 20.00 WIB. Saat tiba dirumah korban, pelaku langsung menanyakan keberadaan ayah korban dan saat itu langsung dijawab korban sedang pergi. Pelaku yang masih tinggal dirumah korban ini kemudian mengajak kedua keponakannya ini berbincang. Tak lama kemudian, kakak korban sebut saja Kuntum pergi ke dapur untuk mengambil makan sedangkan adik korban sebut saja Mawar masih berbincang dengan pelaku.
“Berkisar pukul 21.00 WIB, adik korban Mawar (nama disamarkan, red) yang saat itu tengah mengerjakan tugas, tiba-tiba pelaku langsung berdiri dibelakang korban dan menarik korban masuk ke dalam kamar. Setelah tiba di dalam kamar, pelaku mendorong bahu korban hingga akhirnya korban terjatuh ke kasur. Setelah itu, pelaku membuka baju korban lantas menciumi bagian payudara korban,” ungkap Kapolres.
Tidak berhenti sampai disitu saja, korban yang saat itu memberontak langsung dan meminta agar pamannya menghentikan perbuatan tersebut justru dihardik oleh pamannya dengan nada tegas dan meminta korban agar diam.
“Setelah itu, pelaku mencabuli korban dengan memasukkan alat kelaminnya ke dalam kelamin korban. Perbuatan ini dilakukan pelaku sudah satu tahun. Dan tidak hanya terhadap korban saja, tetapi kakak korban Kuntum juga pernah mendapatkan perlakuan serupa oleh pelaku,” bebernya.
Ditambahkannya, perbuatan biadab pelaku ini akhirnya terungkap setelah bibi korban yang curiga terhadap kondisi kedua keponakannya ini, hingga akhirnya bibi korban memutuskan untuk membawa kedua orang korban ini ke salah satu bidan.
“Setelah diperiksa oleh bidan, dinyatakan jika alat kelamin korban ini sudah rusak. Mendapati hal ini, bibi korban melaporkan kejadian ini ke polisi. Kita cukup prihatin terhadap yang dialami oleh kedua korban, disamping ibu korban yang belum lama ini meninggal dunia, kondisi ayah korban juga terindikasi disabilitas atau autis,” jelas Kapolres.
Setelah dilakukan pemeriksaan saksi-saksi termasuk saksi korban, akhirnya terungkap jika perbuatan bejat ini diduga dilakukan oleh RG yang tak lain adalah paman korban sendiri. Kemudian, pada 11 Januari lalu pihaknya pun langsung mengamankan pelaku.
“Dari hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan terhadap pelaku, dia (pelaku, red) mengaku jika perbuatan itu dilakukannya karena merasa tidak puas dengan istrinya,” ujarnya.
Atas perbuatannya, pelaku bakal dijerat dengan pasal 81 ayat 1 junto pasal 76D dan pasal 3 UU nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak junto UU nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan perpu No 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang-undang junto pasal 82 ayat 1 junto pasal 76 E dan ayat 2 UU nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak junto UU nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan perpu nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-undang.
“Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara dan kita juga mengupayakan agar pelaku juga dikenai hukuman kebiri kimia sesuai aturan berlaku,” pungkasnya. (cw1)

//