Beranda Hukum Wartawan Dilarang Liput Rekonstruksi Dugaan Pembunuhan ASN

Wartawan Dilarang Liput Rekonstruksi Dugaan Pembunuhan ASN

357
Petugas polisi yang berjaga di lokasi rekonstruksi ini meminta wartawan untuk menjauh dari TKP.

//PWI Provinsi Bakal Tindak Lanjuti ke Polda

LEBONG – Rekonstruksi kasus dugaan pembunuhan ASN Pemkab Lebong Dona Fransisca (30) dengan tersangka YB alias IB (33) yang digelar Polres Lebong di Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Desa Nangai Tayau Kecamatan Amen kemarin (24/2) sempat terjadi aksi dorongan terhadap wartawan yang hendak meliput. Bahkan, sejumlah wartawan yang hendak mencari informasi pada proses rekonstruksi inipun diusir untuk menjauh dari lokasi kejadian.
Pantauan dilapangan kemarin, saat tersangka yang dikawal petugas kepolisian tiba dilokasi kejadian wartawan yang bertugas di Lebong mulai mengumpulkan dokumen informasi, hanya saja wartawan hendak mengambil gambar dari proses rekonstruksi kasus dugaan pembunuhan yang menyita perhatian publik ini, petugas kepolisian melarang wartawan untuk melakukan peliputan jalannya proses rekonstruksi dan meminta wartawan untuk keluar dari dalam area police line. Meski wartawan telah meminta agar perwakilan dibolehkan untuk mengambil gambar proses rekonstruksi namun permintaan wartawan ini tetap ditolak oleh petugas dan sempat mendorong wartawan untuk keluar dari area garis police line.
“Wartawan keluarkan,” ujar salah satu anggota polisi. Setelah itu, wartawan yang tengah meliput jalannya rekonstruksi inipun mulai diminta keluar oleh polisi. “Nanti saja ya, nanti di rilis. Bukan berarti menghalangi, bukan ya,” kata salah satu anggota Polres Lebong. Meski salah satu wartawan sudah menjelaskan membutuhkan gambar gambar visual proses rekonstruksi, namun permintaan ini tetap ditolak petugas kepolisian.
Dilokasi kejadian, Kasat Reskrim, Iptu. Didik Mujianto, SH, MH, juga tidak mengubris permintaan wartawan untuk mengambil gambar. “Nanti dikasih kesempatan, aman itu, ya. Bentar dulu,” kata Didik kepada wartawan yang ada dilokasi kejadian.
Terpisah, Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Sudarno, SSos, MH, mengatakan bahwa untuk rekonstruksi tidak dilarang jika awak media ingin mengambil gambar dan silahkan sampaikan dengan petugas kepolisian yang TKP. “Sampaikan aja jika gak apa-apa masuk,” ujarnya.

//
PWI Provinsi Bakal Tindak Lanjuti ke Polda

Sementara itu, Ketua PWI Provinsi Bengkulu, Ketua PWI Provinsi Bengkulu, Zacky Antoni, SH, MH, dihubungi via ponsel ini kemarin memastikan jika pengusiran dan pelarangan wartawan melakukan tugas peliputan pada rekonstruksi kasus dugaan pembunuhan ASN yang digelar Polres Lebong ini kemarin bakal disampaikan pihaknya ke Polda Bengkulu. Apalagi, Kapolda Bengkulu, Irjen Pol. Drs. Teguh Sarwono, M.Si, sendiri sangat terbuka dengan awak media.
“Yang terjadi di Lebong ini kok masalah sebaliknya, dan ini menjadi tanda tanya bagi kita. Masalah ini akan kita sampaikan ke pak Kapolda,” kata Zacky.
Selain itu, dirinya juga menyampaikan aksi pengusiran dan pelarangan wartawan melakukan tugas peliputan ini bisa dianggap sebagai upaya menghalang-halangi tugas wartawan yang diatur dalam UU Pers nomor 40 tahun 1999. Upaya menghalang-halangani tugas wartawan ini juga dapat diancam pidana.
“Kalau rekonstruksi, apalagi kasus yang menyita perhatian publik, harusnya bisa lebih terbuka dan bisa diliput secara terbuka oleh wartawan. Jika wartawan dilarang mengambil gambar atau meliput, justru akan mengundang pertanyaan apa yang disembunyikan dari proses rekonstruksi ini. Kita menyangkan pengusiran maupun pelarangan wartawan yang tengah melakukan tugas peliputan dan kita berharap agar pihak kepolisian agar bisa bersikap akomodatif serta saling menghargai sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Tugas-tugas wartawan inikan untuk kepentingan publik, peliputan terhadap rekonstruksi merupakan kepentingan publik atau masyarakat yang ingin mengikuti perkembangan kasus ini,” singkatnya.

//
Polisi Pastikan Korban Meninggal Dianiaya

Sementara itu, dalam jumpa pers yang digelar di Mapolres Lebong usai rekonstruksi kemarin (24/2), Kapolres Lebong didampingi Kasat Reskrim Iptu Didik Mujianto, SH, MH, dan Kapolsek Lebong Utara, AKP. L Naibaho, SH, memastikan jika kematian DF, bukan karena bunuh diri melainkan adanya dugaan penganiyaan yang diduga dilakukan oleh suami korban. Hal ini sesuai dengan hasil otopsi yang dilakukan dokter ahli forensik.
“Dari hasil otopsi, dinyatakan jika korban meninggal dunia tidak murni gantung diri melainkan dianiaya. Setelah meninggal dunia, korban kemudian digantung oleh tersangka yang diduga untuk mengelabui perbuatannya,” ujarnya.
Atas perbuatannya, tersangka bakal dijerat dengan pasal pasal 44 ayat 3 UU KDRT Nomor 23 Tahun 2004 dan atau pasal 338 KUHP dengan ancaman minimal 15 tahun penjara. Dalam kasus ini, polisi juga telah memeriksa 10 orang saksi termasuk juga terhadap mantan istri tersangka. Sementara itu YR ketika bincangi kemarin, tampak menangis mengingat apa yang sudah dilakukannya kepada istrinya itu. Bahkan, dirinya pun mengaku khilaf dan menyesali perbuatan tersebut.
“Saya sangat menyesal atas apa yang sudah saya lakukan dan saya meminta maaf kepada seluruh keluarga, karena saya tidak pernah menyangka akan terjadi seperti ini dan inipun bukan kehendak dan keinginan saya,” singkatnya.

//
Anggap Miskomunikasi, Kapolres Minta Maaf Pada Wartawan

Terkait dengan pengusiran wartawan saat melakukan peliputan kasus dugaan pembunuhan ASN Pemkab Lebong oleh anggota Polres Lebong ini kemarin, Kapolres AKBP Ichsan Nur, SIK, menyampaikan dirinya selaku Kapolres Lebong yang sekaligus pembina humas dan pembina mitra media Polres Lebong meminta maaf kepada seluruh rekan-rekan media di Kabupaten Lebong terkait miskomunikasi terjadinya larangan peliputan pengambilan gambar proses rekonstruksi.
“Atas nama Kapolres Lebong saya meminta maaf kepada seluruh rekan-rekan media,” kata Kapolres.
Disebutkannya, jika proses rekonstruksi yang dilakukan pihaknya ini kemarin masih bagian dari penyidikan dan moment konferensi pers merupakan moment awak media untuk melakukan peliputan. Hal ini, katanya, semata-semata untuk menghindari adanya kendala dari proses rekonstruksi yang dilakukan anggotanya terlebih lokasi TKP ini cukup sempit.
“Kita hanya ingin menghindari adanya kendala dari proses rekonstruksi yang dilakukan. Rekonstruksi ini kita lakukan untuk mendalami keterangan yang ada dalam BAP. Tapi ini akan menjadi pengalaman bagi kita bersama, saya mohon maaf dan tentunya kedepan akan kita bicarakan lagi mengenai rekontruksi agar memberikan ruang kepada rekan-rekan media,” singkat Kapolres. (bye/wlk)